BALIKPAPAN, – SMA Negeri 2 Balikpapan menjelaskan polemik pengadaan buku panduan akademik yang diedarkan kepada orang tua siswa dengan harga sekitar Rp60 ribu per buku. Pihak sekolah menegaskan buku tersebut bukan bahan ajar, melainkan panduan kegiatan akademik dan sekolah selama satu tahun pelajaran sekaligus menjadi media komunikasi serta monitoring antara sekolah, siswa dan orang tua.
Kepala SMA Negeri 2 Balikpapan, Suprapti. Mpd, mengatakan penyusunan buku tersebut merupakan inisiatif sekolah karena adanya kebutuhan untuk memberikan informasi yang lebih lengkap kepada orang tua mengenai sistem dan kegiatan pembelajaran di sekolah.
“Ini bukan sekadar informasi tentang sekolah saja, tapi ada informasi kegiatan sekolah selama satu tahun pelajaran,” ujar Suprapti didampingi dua staf gurunya kepada para awak media di Kantornya, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, buku tersebut juga memuat panduan monitoring Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang membutuhkan pemantauan secara berkala oleh sekolah.
“Karena ada tujuh kebiasaan anak hebat, anak Indonesia hebat, yang memerlukan monitoring dari sekolah. Kegiatan itu memerlukan monitoring dari sekolah. Maka saya berinisiatif untuk menyusun buku ini,” katanya.
Ia menjelaskan, buku tersebut sekaligus menjadi buku penghubung antara sekolah dengan orang tua. Hal itu dinilai semakin penting karena siswa kini dibatasi menggunakan telepon seluler selama berada di lingkungan sekolah.
“Karena kami sekarang tidak diperbolehkan menggunakan HP ketika kegiatan pembelajaran. Makanya ini dicetak,” jelasnya.
Pihak sekolah juga membantah jika buku panduan tersebut dikategorikan sebagai buku bahan ajar yang seharusnya masuk dalam pengadaan melalui dana BOS.
“Buku cetak pelajaran itu ada yang sudah disiapkan dan dianggarkan melalui dana BOS. Kalau ini karena buku panduan akademik, memang buku panduan untuk sekolah,” ujarnya.
Menurutnya, jika pengadaan buku tersebut menunggu penganggaran melalui BOS, maka tidak dapat digunakan pada tahun pelajaran berjalan karena harus menunggu siklus penganggaran berikutnya.
“Kalau saya menunggu di BOS, kita tidak bisa memakainya tahun ini. Harus menunggu lagi anggaran tahun berikutnya,” katanya.
Untuk tahun berikutnya, sekolah membuka kemungkinan buku tersebut diterbitkan melalui penerbit sehingga dapat masuk dalam sistem pengadaan yang diperbolehkan dan berpotensi dianggarkan melalui BOS.
“Untuk tahun depan, kalau buku ini bisa kami terbitkan melalui penerbit dan penerbitnya bisa terdapat di Balikpapan, bisa dianggarkan lewat dana BOS. Tapi untuk tahun ini memang mendadak,” ujarnya.
Sekolah juga menegaskan bahwa penerbitan buku tersebut bukan berdasarkan instruksi dari pemerintah provinsi.
“Tidak ada instruksi dari provinsi bahwa pengadaan buku ini untuk dilaksanakan,” tegasnya.
Ia mengatakan, sebelum pelaksanaan, pihak sekolah juga telah melakukan komunikasi dengan pihak terkait, termasuk kepala cabang dinas dan Ketua MKKS SMA.
Pihak sekolah juga menyatakan tidak akan memaksa orang tua yang keberatan untuk membeli buku tersebut.
“Kalau misalnya ada orang tua yang komplain, silakan datang ke sekolah untuk berdiskusi. Kalau ada yang keberatan, tidak beli juga tidak masalah,” katanya.
Menurutnya, sekolah juga memberikan keringanan bagi siswa yang berasal dari keluarga yang tidak mampu.
“Memang kita mau subsidi. Alhamdulillah, untuk murid yang tidak mampu, buku-buku gratis,” ujarnya.
Saat ini jumlah siswa SMA Negeri 2 Balikpapan disebut mencapai sekitar 1.050 siswa. Mekanisme subsidi bagi siswa kurang mampu masih menunggu laporan dari wali kelas.
“Untuk subsidinya kita menunggu laporan dari wali kelas, tergantung dari wali kelasnya,” jelasnya.
Buku tersebut juga diberikan kepada guru dan tenaga kependidikan karena sekolah menilai seluruh unsur di lingkungan sekolah perlu memahami sistem dan kegiatan akademik yang berlangsung.
“Bapak ibu guru juga dapat semua, tenaga kependidikan juga. Karena semuanya yang terlibat di sini harus paham apa itu SMA Negeri 2 Balikpapan,” katanya.
Lebih jauh dijelaskan, buku tersebut digunakan untuk mendukung monitoring Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Monitoring dilakukan secara berkala melalui pertemuan siswa dengan guru wali.
“Setiap dua minggu sekali anak-anak bertemu dengan guru wali masing-masing. Guru wali itu berbeda dengan wali kelas,” jelasnya.
Satu guru wali, lanjutnya, membina sekitar 20 siswa. Pertemuan tersebut digunakan untuk memantau penerapan tujuh kebiasaan, mulai dari kebiasaan bangun pagi hingga kebiasaan positif lainnya.
“Setiap dua minggu sekali, dijadwalkan setiap hari Senin, anak-anak bertemu dengan guru wali masing-masing untuk monitoring tujuh kebiasaan tadi,” katanya.
Sekolah juga menggunakan buku tersebut untuk melihat sejauh mana siswa memahami dan menjalankan kebiasaan yang telah ditetapkan.
Menurut pihak sekolah, penggunaan buku menjadi semakin relevan karena siswa tidak dapat mengandalkan telepon seluler selama berada di sekolah.
“Sekarang buku itu kita sangat perlu. Kalau pakai HP, bisa menggunakan aplikasi yang lain. Jadi kita menggunakan buku,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, pihak sekolah juga menjelaskan kondisi sarana dan jumlah rombongan belajar yang masih menjadi persoalan.
SMA Negeri 2 Balikpapan saat ini memiliki sekitar 28 rombongan belajar, sementara jumlah ruang kelas yang dapat digunakan masih belum mencukupi kebutuhan, maka ada kekurangan 4 kelas.
“Kami ini sekolah yang saat ini kekurangan. Rombel kita 28, jumlah kelas yang bisa kita pakai kita kekurangan,” katanya.
Ia mengaku telah beberapa kali mengusulkan penambahan ruang kelas, namun hingga kini belum mendapatkan realisasi.
“Kami sudah mengusulkan mulai dari tahun berapa sampai tahun ini. Saya sudah mengusulkan dua kali untuk penambahan, belum ada input sama sekali,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan sekolah perlu memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada orang tua mengenai kondisi dan sistem pembelajaran di SMA Negeri 2 Balikpapan.
“Orang tua itu harus paham. Mereka sekolah di sini tidak sama dengan sekolah-sekolah yang lain. Makanya diadakan ini supaya orang tua paham,” katanya.
Pihak sekolah berharap buku panduan tersebut tidak hanya dibaca siswa, tetapi juga oleh orang tua sehingga mereka mengetahui bagaimana kegiatan pembelajaran, tata kelola, program sekolah, hingga berbagai aktivitas yang berlangsung selama satu tahun pelajaran.
Dengan demikian, buku tersebut diharapkan tidak dipandang semata-mata sebagai produk cetak yang harus dibeli, tetapi sebagai media komunikasi dan panduan bersama antara sekolah, siswa, guru dan orang tua. (Ydar)

